Ini cerita yang panjang...
Karena seharusnya beberapa hal yang akan tertuang disini memiliki judulnya masing-masing...
Tapi karena untukku, agar bisa bercerita disini aku memerlukan "perasaan yang cukup", maka baru sekarang lah aku bisa mencoba menceritakannya...
Ya, sejak beberapa peristiwa yang lalu, perasaanku cenderung berlebih...
Sesekali terlalu senang, dan yang paling sering, terlalu tidak tahu apa yang sebenarnya ku rasa...
Setidaknya, keadaan itu juga tidak ku kenali sebagai sebuah sedih...

Jadi, setelah banyak peristiwa, apakah sebenarnya aku masih bisa merasa?

Tentu saja...
Kebanyakan rasa itu ku kenal sebagai sebuah syukur..
Mari, ku perkenalkan padanya..

--- Aku, 7 tahun silam...
ABG yang serba penasaran... sangat excited menyambut hal yang sangat megah saat itu, bangku SMA...
Sangat bersemangat.. karena yakin dengan melangkahnya kaki ku ke dalam gerbang SMA, hidupku pun akan melangkah ke sebuah babak baru...
Dan babak baru yang paling ku tunggu adalah yang bercerita tentang cinta...
Sangat anak SMA, bukan? :)
Kalian boleh menyalahkan semua sinetron-sinetron dan cerita turun temurun itu, yang terus mewariskan petuahnya bahwa "masa SMA adalah masa-masa terindah dalam hidup, masa untuk bercinta.."
aku adalah salah satu korbannya.. :))

Dan ku temukan cinta pertamaku pada tahun pertamaku di sana...
Sesosok yang nyaris sempurna (sebenarnya di mata ku dia sempurna, tapi akal ku masih sehat karena masih meyakini tidak ada mahluk yang sempurna) dan ia memang tidak sempurna...
Ia adalah kesempurnaan yang bertahta di atas sebuah kekurangan yang kami sebut sebagai "perbedaan yang paling mendasar".
Aku memiliknya, setidaknya selama hampir 2 tahun terakhirku disana...
Saat itu aku bahagia, saat itu aku bertemu syukur, tapi tidak tertarik untuk mengenalnya lebih jauh... hanya berlalu begitu saja... aku terlalu mabuk cinta untuk sudi mengalihkan perhatian mengenal hal lain...

Seiring akan berakhirnya masa SMA ku, cinta pertamaku beranjak meninggalkanku...
aku berkenalan pada sebuah sakit.. ia datang, diantar oleh kurir yang bernama patah hati...
Patah hatiku yang pertama, 5 tahun silam...
aku sudah tidak ingat pernah bertemu syukur...

--- Aku, 4 tahun silam...
Gadis yang patah hati.... terlalu patah hati hingga tak berharap bisa move on...
Saat itu, aku sudah berada pada sebuah lingkungan yang baru lagi... Sebuah babak hidup baru...
Aku perlahan menyadari, harusnya suasana hatiku juga sudah baru...
Tapi aku terlalu lelah untuk memaksanya berubah..

Kemudian aku mengenal seseorang melalui facebook..
Ia lucu, mengingatkanku kembali bagaimana caranya tertawa....
Tidak, awalnya ia tidak sespesial itu hingga bisa membuatku langsung jatuh cinta...
Tapi ada sebuah keyakinan yang berbisik dalam hatiku sejak awal, bahwa "ia tidak hadir begitu saja dalam hidupmu".
dan seiring waktu, ia membuktikan ternyata ia memang spesial...

Aku jatuh cinta padanya, kami saling jatuh cinta..
saat itu aku teringat syukur, dan sangat merasakan kehadirannya...
aku bersyukur karena memilikinya...
bagiku ia adalah "my sunshine" sinar mentari yang menerangi dan menghangatkan lagi hatiku yang terlalu lama gelap dan dingin...

Dua tahun lebih kami bersama...
Tiap hari aku jatuh cinta padanya...
Cintaku semakin besar seiring dengan rasa takut ku akan kehilangannya...
Ia adalah sosok yang sangat sempurna dengan caranya yang sederhana...
Meski kadang  (sebenarnya) sering sunhshine-ku tertutup awan...
saat kami bertengkar, saat aku terlalu menjengkelkan...

Aku mencintainya... sangat mencintainya...
dengan sombongnya aku berani membangun mimpi-mimpiku bersamanya, dan menceritakan semuanya padanya... Ia menyambutnya dengan senang hati... Semua sudah tertata rapi.. Rasanya semuanya begitu sempurna.
Tapi ternyata cinta ku juga bersinergi dengan ego ku.. semakin aku mencintainya, semakin tinggi ego ku...
Hal itu membuat sunshine-ku semakin sering tertutup awan...
Dan aku tak kunjung menyadarinya.. malah semakin menjadi-jadi...
hingga saat ku sadari, sinar-nya sudah nyaris hilang...

Aku panik, ku pikir aku berusaha memperbaiki semuanya, namun ternyata yang ku lakukan hanya memperparah keadaan..
hingga akhirnya, aku kehilangan sunshine-ku...
Aku kehilangan hal terbaik yang pernah ku miliki dalam hidupku hingga hari ini...
Patah hatiku yang kedua, 1 tahun 4 bulan silam...
Dimana syukur? Entalah, mugkin ia juga meninggalkanku...

--- Aku, hari ini...
Apa kabar, aku hari ini?
Seperti ini lah, sudah tidak sedih, meski masih sulit memahami perasaan sendiri... :))

Setelah kehilanganku yang kedua itu, aku hancur...
aku kembali ke hari-hari ku yang gelap...
hari-hari yang ku takuti...
aku lagi-lagi dijumpai oleh sakit... sakit karena kehilangan...
sakit yang sangat mengerikan...

Aku mendapati lagi diriku tersiksa akan rindu, kesendirian, kesepian, dan kenangan...
Lagi-lagi aku berada di sana, di malam-malam aku menangis hingga tertidur, kemudian melihatnya dalam mimpi, lalu terbangun di tengah malam, dan mulai menangis lagi hingga kembali tertidur lagi...
hari-hari dimana teman-temanku kadang mendapatiku menangis di tengah-tengah kegiatan kami...
Pernah sekali, aku terpaksa meninggalkan kuliah, dan berlari ke tempat parkir, mengurung diri dalam mobil yang tidak ku nyalakan mesinnya untuk menangis.
menangis sejadi-jadinya.

Ya, kehilangan orang yang kau cintai akan berakibat seperti itu...
akan sesakit itu, semenyiksa itu, semengerikan itu...

Dimana syukur?
Oh, itu dia, ia datang.. mendekati ku perlahan...

Kau tahu? dengan segala kebodohan yang kumiliki, dan ku lakukan di masa lalu, ternyata Tuhan masih menyayangi ku...
Hatiku menyembuhkan dirinya perlahan...
Belajar memahami, mencoba menerima, bersabar, dan berusaha ikhlas...

Mungkin ini yang disebut hidayah, tapi aku lebih suka menyebutnya, Tuhan menyayangiku...
Dan tahukah kau bagaimana rasanya? tak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata...
mungkin itu sebabnya aku sulit mengerti perasaanku sendiri saat ini...

Biar ku coba jelaskan...

Saat aku terpuruk itu, Tuhan menakdirkan kaki ku melangkah mendekati-Nya...
(ya, aku tahu, aku sangat beruntung)
Mendekatkan diri pada-Nya, curhat habis-habisaan dengan-Nya, meminta petunjuk-Nya, dan terlebih memohon ampunan-Nya...
Rasa nikmat yang ku alami saat aku bersujud menangis memohon pada-Nya itu lah yang menghapus rasa sakit ku....

Rasa itu digantikan oleh syukur...
Syukur memenuhi hatiku....
Aku merasa sangat beruntung dan sangat bersyukur karena ternyata Tuhan begitu menyayangiku...
Ia memperlihatkan padaku segala hikmah dari kehilanganku...
hingga akhirnya, aku bersyukur telah mengalami segala penderitaan akibat kehilangan itu...

Ia memperlihatkan padaku cinta yang sebenar-benarnya cinta...
Cinta dari kedua orang tua ku...
Dua orang yang membuat hatiku berbisik, bahwa tujuan terbesar hidupku adalah membahagiakan mereka..
Cinta dari keluarga, yang dengan caranya sendiri selalu menghangatkan hatiku...
Cinta dari sahabat-sahabat ku, yang menyediakan obat penawar sakit dari tawa-tawa yang tercipta bersama mereka... yang merelakan telinganya panas mendengarkan keluh kesah ku, kemudian dengan sabar menasehatiku..
Cinta-Nya yang membuatku mengalami semua ini.

Aku belajar memahami segalanya, hingga akhirnya aku sampai pada sebuah kesimpulan, ini lah hidup..
tentang bagaimana kita berproses, dan sebanyak apa kita mampu meraih hikmah dari proses itu...
Ini lah hidup. yang segalanya telah ditentukan oleh-Nya...
maka apa lagi yang harus aku khawatirkan?
aku hanya harus berhati-hati dalam menjalaninya..

Aku mendapatkan sebuah pemahaman yang sangat-sangat bermakna...
dan syukur memenuhi hatiku...

Dan sebagaimana layaknya segala jenis pelajaran, saat kita merasa telah paham, maka saat itu saatnya kita diuji, bukan?
Aku tahu itu...
Dan saat ini lah, aku sedang diuji...

--- Aku, hari ini...
Seseorang hadir...
Mendengarkan ceritaku, berbagi ceritanya, mengajakku berbagi tawa...
kehadirannya menghadirkan warna baru di hatiku...
bisa jadi itu cinta, tapi aku tidak mau terburu-buru menilainya...

Ia paham aku baru saja terluka..
Ia tahu, aku belum sembuh...
Tapi menurutnya, ia gagal untuk melawan rasanya padaku...
Ia sebut itu cinta...

Bagaimana dengan ku? cinta kah aku padanya?
Entahlah, sampai saat ini aku juga belum yakin..
Yang aku tahu, rasanya menyenangkan tiap bersamanya, saat ia jauh, aku rindu berbagi tawa dengannya...
Dan aku menikmati lonjakan-lonjakan listrik yang menggelitik hatiku tiap bersamanya...

Mungkin sebenarnya itu adalah cinta...
Masalahnya adalah aku sedang tidak ingin fokus ke hal itu..
aku ingin tetap disayang Tuhan...
dan memperbaiki banyak hal pada diriku...

Aku sudah menyampaikan hal itu padanya...
dan dia memahaminya...
tapi dia tidak menjauh... kami malah semakin dekat...
Ah, cobaannya semakin berat...

Lalu, dimana syukur?
Ia masih disini, masih tak henti-hentinya memenuhi hatiku tiap aku mengingat segala apa yang ku tuliskan disini....
Aku ingin ia tetap disana.. aku ingin tetap selalu bisa bersyukur....

Jadi, sudah ikhlas kah aku, akan kehilangan yang sebelumnya?
aku tidak berani meng-klaim nya...
aku masih belajar....

dan aku sangat bersyukur....
Ini semua, rasanya manis sekali...

Bagaimana dengan Sunshine, sudah lupa kah aku padanya?
Tidak, tentu saja tidak....
Aku justru sangat berterima kasih padanya....
Tanpa kehadirannya, aku tak akan mengalami semua ini....

Seseorang itu, bagaimana dengannya?
Cinta kah aku padanya?
Lagi-lagi aku tidak tahu, atau mungkin sebenarnya aku cinta, tapi belum mau mengakuinya..
Entahlah... aku belum bisa menceritakannya sekarang...
Tunggu saja! ;)

Back to Home Back to Top Believer of Believing... Theme ligneous by pure-essence.net. Bloggerized by Chica Blogger | Make Money Online.