Cinta dan permasalahannya masing-masing.
Ribet, yah..
Pertama aku menemui cinta, ialah yang hinggap pada seorang yang rupawan, cerdas, dan idola banyak orang.
Dan ia balas mencintaiku.
Rasanya bahagia dan bangga sekali memilikinya.
Tapi sayang, orang tua ku adalah lawan utama cinta itu.
Bagaimana tidak? Kami beda agama.
Tuhan pun mungkin sangat marah padaku..
Anugerah cinta berikutnya, tidak dapat ku jelaskan dengan kata-kata betapa ia berarti untukku..
Sesuatu yang mungkin tidak akan ku miliki lagi untuk kedua kalinya.
Kami saling cinta, keluarganya menerima ku dengan baik, aku mencintai mereka.
Ayah ibu, keluarga, sahabat-sahabatku sayang padanya.
Aku pun sampai terheran-heran melihat bagaimana kedua orang tua ku begitu menyukainya..
Tapi cobaan datang dengan cara lain..
Bukan masalah restu, apalagi orang ketiga.
Masalah itu adalah kami.
Dua pribadi yang belum dewasa. Terutama saya. Sangat tidak dewasa.
Mengira ego nya adalah sebuah kebenaran.
Menimbulkan percikan-percikan api yang menghanguskan kami perlahan-lahan.
Hingga saat sadar, yang tersisa tinggal puing-puing dan abu.
Yang berusaha ku kais dan ku satukan kembali dengan air mata dan sisa-sisa harapan.
Percuma.
Kini aku mulai mencoba mengecap cinta lagi.
Masih belum pulih total dari kehancuran yang sebelumnya.
Tapi ia yang menawarkan cinta kali ini, berhasil menyentuh hatiku.
Dengan kesabaran dan kegigihannya.
Ia tidak menjanjikan apa-apa.
Ia hanya menyajikan dirinya.
Sebenarnya aku mau menjabarkan isinya, tapi aku kehilangan kata-kata.
Larut dalam kehangatan yang merebak di dada ku saat mengingatnya.
Tapi aku tidak mengerti, mengapa hanya aku yang melihat dan merasakannya?
Orang tua dan sahabat-sahabat ku memberi respon negatif padanya.
Aku tidak mengerti kenapa.
Sepertinya apa yang ku lihatt dan mereka lihat jauh berbeda.
Restu lagi-lagi menjadi cobaan kali ini..
Ini sangat meresahkan.
Rasanya aku tidak cukup kuat jika harus menyaksikan perlawanan demi perlawanan agar mereka mau melihatnya seperti caraku.
Tapi aku tidak mungkin tidak memperjuangkannya.
Ia sama sekali tidak pantas diperlakukan sejahat itu.
Aku harus apa?
Aku lelah.
Aku ingin sebuah akhir.
Sesuatu yang pasti.
Sebuah awal yang baru.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Leave a Comment