Pillow Talk

...

"so, how's your day?"

"hmm.. not good. Aku sakit seharian ini. Gara-gara durian yang ku makan sebelum tidur semalam. Tambah lagi sewaktu tiba di RS aku dibuat stress oleh kabar bahwa pengurusan surat penelitianku mungkin akan memakan waktu sangat lama. Belum lagi suasana hati ku yang sangat buruk hari ini.
kau tahu? Seharian aku mati-matian menahan diri agar tidak mengganggu mu dengan meneleponmu hanya untuk mengeluhkan ini semua. Seharian aku sangat merindukanmu.
hahahaha... Tapi sekarang sudah tidak penting. How's yours?"

"kenapa kamu tidak menelepon ku saja? aku kan tidak pernah bilang kamu mengganggu."

"ya, i know. tapi kalau aku membiarkan diriku mengikuti kemauanku aku akan kembali menjadi amel yang sangat manja seperti dulu."

"well, ok.. tapi aku tidak pernah mengatakan kamu mengganggu kan.."

"iyaa sayang... aku cuma tidak mau menjadi sama seperti yang dulu. tidak dapat mengontrol perasaan, akhirnya mengulang lagi kesalahan-kesalahanku yang dulu, yang bisa saja membuatku kembali..............
...
aku takut, sayang.
seperti yang ku katakan padamu di sms pagi ini.
aku tidak pernah berpikir akan merasakan ini semua padamu.
aku harus kembali memijak tanah.
seperti yang pernah kamu katakan.
karena perasaan yang terus meraksasa itu, membuatku bermimpi, membuatku berharap.
sementara, apalah kita ini, sayang...
kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.
aku tidak siap untuk kehilangan lagi.
jika yang pertama membuatku sangat kesakitan, yang kedua membuatku mati rasa, maka akan jadi apakah aku jika terjadi lagi yang ketiga?"

"hmm.. raksasa itu, sebesar apa? sebesar hagrid kah?"

"hahaaha.. terlalu besar. semua kalimat "i love you" itu, sudah tidak cukup mewakilinya. aku harus mengecilkannya kembali."

....

"aku pernah berpikir, aku tidak seharusnya menyayangi orang yang kuberi label 'pacar' seperti ini. karena, lihat saja yang lalu. ternyata it's not worth it. sia-sia. harusnya perasaan seperti ini ku miliki untuk suamiku saja kelak.
tapi ternyata aku tetaplah aku. keburukan ku tetap menjadi keburukan ku.
sebenarnya, bagaimanakah cara menyayangi yang benar?
kamu, bagaimana caramu menyayangi?"

....

"pertama, aku adalah orang yang berbeda, maka tentu apa yang akan kamu alami adalah beda.
kedua, kami berbeda, maka pastilah pengalaman dan pelajaran yang di dapat akan berbeda.
ketiga, hahahahahah... i'm blank, tidak tahu harus mengatakan apa."

....

"aku tidak banyak tahu, kamu ajarilah aku, sebaliknya jika aku tahu, aku yang akan mengajarimu. bersama-sama, sayang.
kita menjadi besar bersama-sama.
seperti itulah caraku menyayangimu."

Bersama dengan meluncurnya kalimat itu perlahan, ada hati yang bergetar hebat karenanya, berbanjir kehangatan cinta, dan menderas keluar dalam bentuk air mata bahagia,
air mata syukur. air mata harapan.

0 komentar:

Leave a Comment

Back to Home Back to Top Believer of Believing... Theme ligneous by pure-essence.net. Bloggerized by Chica Blogger | Make Money Online.