I'm Getting Married !

SURPRISE !!!!
It’s a surprise, isn’t it?
Banyak sekali hal-hal yang tidak sempat saya ceritakan disini.
Jika dibaca kembali dari awal, dalam sekejap dapat ketahuan, kalau blog ini adalah “diary” tempat curahan segala perasaan kacau balau yang ku alami saat patah hati.
Maka tolong dimaafkan jika isinya terasa sangat cengeng, lebay, dan apapun itu.
Awalnya sempat terpikir ingin menghapus saja blog ini, lalu membuat lagi yang baru. Untung saja saya segera tersadar, bahwa walaupun saya geli sendiri saat membaca kembali tulisan-tulisan saya sebelumnya, namun segala rasa yang menyebabkan terposting-nya judul demi judul tulisan itu lah yang menjadikan saya adalah saya yang sekarang.
Saat saya sedang bersedih, saya sangat terbantu dengan mencurahkan segala yang saya rasa dalam tulisan-tulisan tersebut. Saya bisa dengan bebas dan jujur memuntahkan semua hal yang membuat dada saya menjadi sesak.
Setelah saya lelah mengeringkan air mata, saya melanjutkan ratapan dengan menangis huruf-huruf.
Rasanya sangat melegakan.
Dan membantu memulihkan hati saya sedikit demi sedikit.
Hal yang membuat saya sangat bersyukur dengan patah hati yang saya alami adalah melalui proses patah hati itu saya banyak belajar.
Saya marah. Lalu saya berontak tak mau menerima kenyataan. Lalu saya belajar menenangkan diri.
Belajar mendengar. Nasihat- nasihat dari beberapa sahabat yang mungkin sebenarnya sangat muak mendengar ratapanku yang tidak habis-habis.
Belajar memahami. Mencoba melihat dari sudut –sudut pandang yang berbeda, kenapa saya sampai harus merasakan sakit yang teramat sangat itu.
Belajar memaafkan. Memaafkan keputusannya. Dan terutama memaafkan diri  saya sendiri.
Belajar bersabar.
Belajar ikhlas.
Kemudian saya belajar mencintai diri saya sendiri.
Saya bersyukur bisa mempelajari itu semua dari banyak guru.
Orang-orang yang peduli dan menyayangi saya.
Ayah & Bunda di Pesantren Padang Lampe yang membimbing dan mengingatkan saya kembali tentang betapa Allah sangat mencintai saya.
Hingga artikel-artikel sebuah “kelas cinta” yang saya ikuti di twitter.
Saya memulai pelajaran mencintai diri saya dengan cinta.
Menyadari sesungguhnya betapa banyak cinta yang dianugrahkan kepada saya selama ini. Cinta dari-Nya, cinta kedua orang tua & adik-adik saya, cinta sahabat-sahabat saya.
Sehingga hati saya mearsakan sejuk kembali. Saya mulai tersenyum kembali.
Kemudian ku cintai diri ku luar dan dalam.
Untuk fisik, saya berolah raga, saya rajin melakukan perawatan ini dan itu.
Untuk wawasan, saya menyibukkan diri dengan mengambil kursus tambahan.
Kemudian semua itu ternyata membuahkan hasil tambahan. Saya merasa bahagia.
Sehingga jiwa saya pun mendapatkan cinta.
Dan pelajaran terbesar yang saya dapatkan dari semua pelajaran itu adalah bersyukur.
Sungguh tidak ada alasan untuk saya, untuk tidak bersyukur.

Setelah proses pembelajaran itu selesai, hadirlah cinta yang baru.
Ah, sesungguhnya dia telah hadir sejak awal.
Tenang, mendengarkan, menenangkan.
Dia, hmm..  bagaimana saya merangkumnya dalam sebuah tulisan singkat ini.
Dia menyajikan cinta yang mengalir tenang.

Mahesa. Sesungguhnya dia telah hadir sejak awal proses belajar ku selama ini.
Dia adalah sosok yang sempat saya sebut dalam sebuah tulisan sebelumnya.
Ya, saat itu sesungguhnya saya masih sakit.
Tapi dia tidak terburu-buru , tidak memaksa.
Dia mendampingiku sambil mendengarkan cerita-cerita, memberikan masukan-masukan dari sudut pandangnya, menemaniku bercerita tentang hal-hal menarik lainnya, hingga membuatku tertawa kembali.
Dia membuatku merasa dipuja, dibutuhkan, dicintai, dan patut dibanggakan.
Menjalani hari-hari baru bersamanya terasa menyenangkan, hingga saya yakin saya tidak hanya jatuh cinta kepadanya, saya juga jatuh cinta kepada Kami. Saya mengagumi betapa kerennya kami sebagai pasangan.
Kami menjalani hubungan jarak jauh. Yang tidak pernah sebelumnya saya bayangkan akan sanggup dijalani oleh seorang Amel.
Namun ternyata hubungan ini menyenangkan. Kepercayaan terbentuk begitu saja. Cinta bertumbuh seiring waktu. Bukan berarti kami tidak pernah bertengkar, saya bahkan pernah hampir memutuskannya! Namun hubungan ini ternyata jauh lebih tenang jika dibandingkan dengan hubungan-hubungan yang pernah ku jalani sebelumnya, yang justru hampir setiap hari kami bertemu, dan lebih lucunya lagi hubungan itu berakhir karena tidak adanya rasa percaya. Hahaha.
Begitulah, setelah kurang lebih 3 tahun kami bersama, akhirnya dia secara resmi memintaku untuk menikah dengannya.
We are engaged !
Bismillah. Semoga kami senantiasa dibimbing dan diberi petunjuk dalam melangkah.
Sehingga cinta kami bisa tetap selalu terjaga, selalu diberkahi, dan selalu kuat menghadapi cobaan-cobaan bersama.

Aamin.

Kosong

Beberapa waktu belakangan ini saya sering mendapati diri saya merasa kosong.
Bukan jenis kekosongan yang terasa sepi.
Bukan kekosongan yang penuh kegalauan seperti yang pernah saya rasakan ketika patah hati dulu.
Bukan sebuah kekosongan yang membuat saya meringkuk menangis menahan sakit yang ditimbulkan.
Ini adalah kekosongan yang..... Kosong.

Sepertinya saya terlalu baik-baik saja.
Tidak sedih. Tidak sakit. Tidak marah. Tapi juga tidak senang.
Biasa saja.
Datar.

Ah, tapi sudahlah.
Seharusnya saya lebih banyak bersyukur.
Setidaknya saya tidak harus menumpahkan pilu setiap malam karena merasa kesakitan.

Haus.

Kamar koas mata RSWS
Jumat, 28 November 2014

Sayang, aku rindu...
Tapi aku enggan menghubungi mu..
Takut mengganggu..
Lagi pula, rasa-rasanya hampir tiap saat aku merindu.
Jika tiap aku  rindu aku menghubungi mu, aku takut kamu akan merasa bosan hingga  'enek' dengan keberadaan ku..

Sayang, ini lah yang ku maksud dengan keburukan ku dalam mencintai..
Saat cinta ku makin dalam, bagi ku kamu akan menjadi separuh dari diriku..
Yang setiap saat ku butuhkan, setiap saat ku cari, setiap saat ku inginkan.
Rasanya aku tak utuh tanpa keberadaanmu..

Aku seperti orang yang berjalan, kadang berlari, di gurun pasir
Dan kau adalah air dingin yang saking segarnya menimbulkan titik-titik embun di bening gelasnya.
Aku membutuhkan mu. Aku menginginkanmu.
Walau keberadaan mu hanya  dalam bentuk sepotong teks, atau semenit percakapan telepon.

Sayang, aku rindu...
Maaf jika aku berlebihan.
Aku juga tidak mengerti kenapa seperti ini..
Tapi aku berusaha dengan segala mampu ku untuk menjinakkannya..

Sayang, saat ini aku rindu...
Kamu?

midnite tears

bagaimanakah caranya mengetahui apa yang benar dan apa yang salah?
bagaimanakah caranya memahami mana yang teguran, mana yang cobaan, dan mana yang anugerah?

seolah-olah jika ku bertanya seperti ini aku akan tahu jawabannya..
seolah-olah jika aku sangat kesakitan kemudian hati ku mengeluarkan darah air mata sebuah sinar akan turun menunjukkan kebenaran.

Pillow Talk

...

"so, how's your day?"

"hmm.. not good. Aku sakit seharian ini. Gara-gara durian yang ku makan sebelum tidur semalam. Tambah lagi sewaktu tiba di RS aku dibuat stress oleh kabar bahwa pengurusan surat penelitianku mungkin akan memakan waktu sangat lama. Belum lagi suasana hati ku yang sangat buruk hari ini.
kau tahu? Seharian aku mati-matian menahan diri agar tidak mengganggu mu dengan meneleponmu hanya untuk mengeluhkan ini semua. Seharian aku sangat merindukanmu.
hahahaha... Tapi sekarang sudah tidak penting. How's yours?"

"kenapa kamu tidak menelepon ku saja? aku kan tidak pernah bilang kamu mengganggu."

"ya, i know. tapi kalau aku membiarkan diriku mengikuti kemauanku aku akan kembali menjadi amel yang sangat manja seperti dulu."

"well, ok.. tapi aku tidak pernah mengatakan kamu mengganggu kan.."

"iyaa sayang... aku cuma tidak mau menjadi sama seperti yang dulu. tidak dapat mengontrol perasaan, akhirnya mengulang lagi kesalahan-kesalahanku yang dulu, yang bisa saja membuatku kembali..............
...
aku takut, sayang.
seperti yang ku katakan padamu di sms pagi ini.
aku tidak pernah berpikir akan merasakan ini semua padamu.
aku harus kembali memijak tanah.
seperti yang pernah kamu katakan.
karena perasaan yang terus meraksasa itu, membuatku bermimpi, membuatku berharap.
sementara, apalah kita ini, sayang...
kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.
aku tidak siap untuk kehilangan lagi.
jika yang pertama membuatku sangat kesakitan, yang kedua membuatku mati rasa, maka akan jadi apakah aku jika terjadi lagi yang ketiga?"

"hmm.. raksasa itu, sebesar apa? sebesar hagrid kah?"

"hahaaha.. terlalu besar. semua kalimat "i love you" itu, sudah tidak cukup mewakilinya. aku harus mengecilkannya kembali."

....

"aku pernah berpikir, aku tidak seharusnya menyayangi orang yang kuberi label 'pacar' seperti ini. karena, lihat saja yang lalu. ternyata it's not worth it. sia-sia. harusnya perasaan seperti ini ku miliki untuk suamiku saja kelak.
tapi ternyata aku tetaplah aku. keburukan ku tetap menjadi keburukan ku.
sebenarnya, bagaimanakah cara menyayangi yang benar?
kamu, bagaimana caramu menyayangi?"

....

"pertama, aku adalah orang yang berbeda, maka tentu apa yang akan kamu alami adalah beda.
kedua, kami berbeda, maka pastilah pengalaman dan pelajaran yang di dapat akan berbeda.
ketiga, hahahahahah... i'm blank, tidak tahu harus mengatakan apa."

....

"aku tidak banyak tahu, kamu ajarilah aku, sebaliknya jika aku tahu, aku yang akan mengajarimu. bersama-sama, sayang.
kita menjadi besar bersama-sama.
seperti itulah caraku menyayangimu."

Bersama dengan meluncurnya kalimat itu perlahan, ada hati yang bergetar hebat karenanya, berbanjir kehangatan cinta, dan menderas keluar dalam bentuk air mata bahagia,
air mata syukur. air mata harapan.

Menanti sebuah akhir

Cinta dan permasalahannya masing-masing.
Ribet, yah..

Pertama aku menemui cinta, ialah yang hinggap pada seorang yang rupawan, cerdas, dan idola banyak orang.
Dan ia balas mencintaiku.
Rasanya bahagia dan bangga sekali memilikinya.
Tapi sayang, orang tua ku adalah lawan utama cinta itu.
Bagaimana tidak? Kami beda agama.
Tuhan pun mungkin sangat marah padaku..

Anugerah cinta berikutnya, tidak dapat ku jelaskan dengan kata-kata betapa ia berarti untukku..
Sesuatu yang mungkin tidak akan ku miliki lagi untuk kedua kalinya.
Kami saling cinta, keluarganya menerima ku dengan baik, aku mencintai mereka.
Ayah ibu, keluarga, sahabat-sahabatku sayang padanya.
Aku pun sampai terheran-heran melihat bagaimana kedua orang tua ku begitu menyukainya..
Tapi cobaan datang dengan cara lain..
Bukan masalah restu, apalagi orang ketiga.
Masalah itu adalah kami.
Dua pribadi yang belum dewasa. Terutama saya. Sangat tidak dewasa.
Mengira ego nya adalah sebuah kebenaran.
Menimbulkan percikan-percikan api yang menghanguskan kami perlahan-lahan.
Hingga saat sadar, yang tersisa tinggal puing-puing dan abu.
Yang berusaha ku kais dan ku satukan kembali dengan air mata dan sisa-sisa harapan.
Percuma.

Kini aku mulai mencoba mengecap cinta lagi.
Masih belum pulih total dari kehancuran yang sebelumnya.
Tapi ia yang menawarkan cinta kali ini, berhasil menyentuh hatiku.
Dengan kesabaran dan kegigihannya.
Ia tidak menjanjikan apa-apa.
Ia hanya menyajikan dirinya.
Sebenarnya aku mau menjabarkan  isinya, tapi aku kehilangan kata-kata.
Larut dalam kehangatan yang merebak di dada ku saat mengingatnya.
Tapi aku tidak mengerti, mengapa hanya aku yang melihat dan merasakannya?
Orang tua dan sahabat-sahabat ku memberi respon negatif padanya.
Aku tidak mengerti kenapa.
Sepertinya apa yang ku lihatt dan mereka lihat  jauh berbeda.
Restu lagi-lagi menjadi cobaan kali ini..

Ini sangat meresahkan.
Rasanya aku tidak cukup kuat jika harus menyaksikan perlawanan demi perlawanan agar mereka mau melihatnya seperti caraku.
Tapi aku tidak mungkin tidak memperjuangkannya.
Ia sama sekali tidak pantas diperlakukan sejahat itu.

Aku harus apa?

Aku lelah.

Aku ingin sebuah akhir.
Sesuatu yang pasti.
Sebuah awal yang baru.

Bring It On, 2014!

Hello, 2014!
tidak terasa sekali, kamu sudah tiba...
saya masih tidak bisa betul-betul mengingat apa saja yang sudah terjadi di 2013...
rasanya semua kejadian berlangsung sangat cepat secara bersamaan.

2013 adalah tahun yang penuh kebingungan bagiku...
Mostly, saya merasa tidak mengenal siapa saya.
Semua yang terjadi di 2012 banyak mengubahku, perubahan yang menyenangkan, tapi sulit sekali ku pahami.

Perubahan dan kebingungan yang ditimbulkannya itu memberikan dampak yang besar padaku.
sering kali saya merasa melakukan kegiatanku, apapun,  tapi "saya" tidak berada disana.
mungkin seperti robot.
bahkan sering setelah melakukan sesuatu, saya seperti tersadar, kemudian berpikir, apa yang baru saja saya lakukan? bagaimana saya melakukannya? kenapa saya melakukannya?

Ya, mengerikan.
saya sempat berpikir, mungkin saya mengalami gangguan jiwa.
entah diagnosa yang mana.
tapi, hasil tes kepribadian ku kemarin mengatakan bahwa saya baik-baik saja.
Dan saya kecewa.
Saya akui, mungkin saya akan lebih lega, jika di kertas itu tertulis bahwa saya mengalami sebuah gangguan.
Setidaknya, jika demikian, saya jadi tahu, saya membutuhkan pertolongan.
saya bisa tahu, apa yang harus saya lakukan pada diriku.

Sering sekali saya tidak bisa membedakan apakah saya sedang benar-benar sedang merasakan sesuatu, atau itu hanya bentuk kreatifitas dari pikiran ku yang mungkin sudah gila.
Alhasil, saya hampir tidak bisa membuat keputusan.

Saya dalam masalah.

Jika dipikir-pikir lagi, besar sekali dampak yang kualami dari kehilangan seorang surya anugrah.
But it's ok, sampai saat ini aku masih menganggap itu adalah sebuah anugerah.
Saya bersyukur dengan semua perubahan yang terjadi pada diriku.
Meski tidak ku duga akan se-memusingkan ini.
Mungkin ini lah pokok pelajaran ku kali ini.
Belajar memahami diri sendiri.
Itu bisa berarti akan banyak konflik dengan diriku sendiri. Dan tidak akan ada yang bisa menolongku.
Oh, semoga Allah tetap sayang padaku, sehingga Ia tetap selalu menjaga ku.
Dan jangan lupa, efek yang akan timbul pada lingkungan sekitarku akibat konflik dengan diri sendiri itu.
Damn! Seolah satu konflik itu saja tidak sangat mengerikan.

Speaking of ASA, dia sudah berlari sangat jauh.
Saya masih meyakini cintaku padanya adalah sejati.
Tapi otak ku semakin cerdas.
dan realita perlahan tapi pasti membuatku percaya.
Saya rasa dia memang sudah tidak mencintaiku, mungkin sudah sejak lama, saya saja yang terlalu hebat dalam hal denial.
Tapi aku tau, apa yang ku rasa padanya hingga saat ini adalah cinta.
Well, tidak masalah, perasaan itu tenang dan menenangkan.
Tidak menuntut apa-apa. Tidak masalah jika ia sudah tidak mencintaiku. Tidak masalah jika kami tidak bisa bersama pada akhirnya. Aku hanya berharap ia berbahagia selamanya dengan siapapun orang-orang yang dicintainya. Amin.

Sudahlah.. Mari berbicara tentang Mahesa.
Mahesanya Aku, begitu saya biasa memanggilnya.
Alay, bukan?
HAHAHAH...

Yah, akhirnya saya menerima kehadirannya.
Setelah membiarkan semuanya mengalir saja, ternyata disinilah kami sekarang.
Saya tahu, ini seperti menjilat ludah sendiri, setelah pada waktu-waktu sebelumnya saya sering mengatakan saya sudah tidak mau lagi berpacaran.

Sebenarnya, sampai sekarang pun, saya masih percaya, bahwa pacaran itu tidak ada gunanya.
Lalu apalah saya? melakuakan sesuatu yang sudah tahu sendiri itu tidak berguna.
Namun apa yang ku rasakan padanya, meski tidak belum berani ku sebut cinta, tapi ia ada. Nyata.
Meski saya sudah pesimis dengan "pacaran", namun saya berusaha menjalaninya seolah-olah ada hari esok yang pasti untuk kami.
"Seolah-olah", huh?

Oh, crap! bahkan saat ini pun, diriku sudah memulai perangnya dengan dirinya sendiri.

What the hell is going on with me????????

Satu-satunya yang ku tahu sekarang untuk berusaha tetap waras adalah  hanya berusaha menjalani ini semua.
not expecting anything.
Hanya harus lebih banyak bersyukur, I guess.
berusaha menjalani pola yang seharusnya saya jalani, dan berusaha tidak keluar dari garis.
Dan saya sangat menantikan sebuah akhir.
Well, menantikan sebuah akhir juga sebentuk harapan bukan?
So yes, 2014! I still have hope!

Back to Home Back to Top Believer of Believing... Theme ligneous by pure-essence.net. Bloggerized by Chica Blogger | Make Money Online.